Kite Runner : a Way to Be Good Again

9 Jun

77203

Saya suka sekali merekomendasikan buku yang bagus untuk teman dan keluarga. Selain itu saya juga suka banget meminjamkan buku-buku ke teman (asal dibalikin).  Nah, baru-baru ini saya meminjamkan suatu buku ke teman saya. Buku Khaled Hosseini yang ada di rak yang belum sempat saya baca, yaitu and the Mountains Echoed. Selama saya meminjamkan, teman saya antusias banget membaca buku itu. Saking antusiasnya, saya bisa melihat matanya berbinar- binar membicarakan buku ini. Dia bahkan heboh merekomendasikan ke teman saya yang lain, dan akhirnya mereka sama – sama berbinar – binary membicarakan buku itu. Jadinya saya penasaran dan kepengen juga membaca buku Khaled Hosseini.

Saya memilih Kite Runner

Ini adalah buku pertama dari pengarang Afghanistan yang saya baca. Tau sih dari beberapa tahun yang lalu kalau buku ini sempat hype banget di dunia perbukuan dan literasi. Saya belum sempat tertarik saat itu, dan baru sempat tertarik ketika teman – teman saya pada tergila – gila dengan pengarangnya. Khaled Hosseini sendiri menjadi daya tarik saya karena dia adalah seorang dokter penyakit dalam yang sempat – sempatnya menulis buku bagus seperti ini. Saya takjub sama yang begini sih, saya sendiri aja apa kabar, masih dokter umum aja blog ditinggalin sampe berdebu.

Keasikan membaca tentang fiksi sejarah Eropa dan Amerika, saya jadi buta sekali sama yang namanya cerita Timur Tengah. Pernah membaca buku tentang Afghanistan, Boy Overboard namun penulisnya bukan orang Afghanistan. Lagipula saya juga sudah lupa ceritanya. Mr. Hosseini, memulai ceirtanya dengan memperkenalkan kepada saya bahwa Afghanistan adalah negara yang tadinya indah, dengan bau kebabnya yang bikin liur menetes, anak – anak berlarian mengejar layangan, keluarga – keluarga utuh dan tentu saja dahulu kaki – kaki mereka utuh tanpa ada yang buntung kena bom.

Salah dua dari anak – anak bahagia itu adalah Amir dan Hassan. Amir adalah anak orang kaya, Baba, pebisnis tersohor di Afghanistan. Baba memiliki budak yang tinggal bersamanya, yaitu Ali dan anaknya Hassan. Amir dan Hassan sama – sama tidak memiliki Ibu, sehingga keduanya merupakan saudara persusuan. Sayangnya, Amir dan Hassan adalah pribadi yang berbeda. Hassan pemberani, Amir sama sekali tidak. Hassan buta huruf, Amir suka dengan literasi.

Cerita menjadi serius dan menyiksa pembaca tanpa ampun dengan konflik yang muncul bertubi – tubi. Mulai dari kecemburuan Amir dengan Hassan sampai ke konflik Afghanistan yang diduduki Rusia membuat semuanya menjadi kacau balau. Kehidupan Amir dan Hassan berubah drastis. Hassan dan Ali pergi dari rumah Baba, kembali ke kampung halaman mereka, sedangkan Amir dan Baba mengungsi ke Amerika, menghindari kekacauan yang ditimbulkan Rusia (atau yang Baba sebut Roussi)

Amir dan Baba menghabiskan hidup di Amerika. Sampai suatu hari Amir mendapat telepon dari kerabat lama mereka, sahabat Baba, Mr. Rahim Khan yang meminta Amir kembali ke Afghanistan untuk kembali menuju kebaikan.

Ceritanya nyata, cara Hosseini menjelaskan semuanya sangat lugas dan enak sekali membacanya. Selain itu, ceritanya memang sedih sekali. Mungkin hampir setiap kali saya membaca buku ini, mata saya berair. Ceritanya mengenai memperbaiki masa lalu sangat menyentuh. Jelas, Hosseini memang berhasil membuat cerita yang menyentuh dilatarbelakangi oleh negara asalnya yang hancur dan kacau balau ini terkenal di seantero dunia. Satu dari sedikit buku yang saya suka karena ceritanya yang benar – benar menyentuh.

Saya tidak punya kata – kata lagi untuk mereview buku ini. Memang benar buku yang bagus sulit di review. Saya benar – benar suka dengan semuanya, tokohnya, temponya, rasa melankolinya, rasa disayat – sayat oleh ceritanya, semuanya. Kecuali mungkin bagian akhirnya yang… luar biasa membuat saya menangis tersedu- sedu.

Personal Reason

Salah satu kutipan yang membuat saya menyerahkan hati saya oleh buku ini adalah…

Ada jalan untuk kembali menuju kebaikan.

Tentu kita semua adalah Amir yang memiliki kesalahan di masa lalu, yang selalu ada di pikiran kita dan ingin kita ubah. Tentu kita semua juga pernah menjadi Amir yang lari dari kenyataan dan tidak mau kembali lagi. Rasanya ini yang membuat buku ini satu dari beberapa buku yang akan saya ingat terus.

Buku ini membuat saya berpikir bahwa bila Amir saja bisa kembali, kenapa saya tidak ?

 

Seriously, I don’t need to say that I give all my heart to this one

 

Judul : The Kite Runner

Penulis : Khaled Hoseini 

Penerbit : Qanita 

Halaman : 490 halaman

Iklan

Hope is the Biggest Killer in Here

1 Jun

Hasil gambar untuk great expectations wordsworth classics

Judul : Great Expectations

Penulis : Charles Dickens

Edisi : Wordsworth

Halaman : 412 halaman

Halo, selamat berpuasa dan berbulan Ramadhan bagi yang menjalankan. Kali ini saya akan mengisi hari – hari sedikit senggang dengan mereview buku yang sudah sebulan lalu saya selesaikan. Bulan lalu saya menyelesaikan membaca buku klasik berjudul Great Expectations karya Charles Dickens.

Harapan besar, sama seperti judulnya, buku ini berisi harapan besar. Harapan Pip Pirrip untuk keluar dari kehidupannya yang miskin, nasibnya yang bukan siapa – siapa dan bukan apa – apa seperti remahan rengginang dibandingkan perempuan yang diidam-idamkannya, Estella. Pip seorang anak yang bernama aneh ini, adalah yatim piatu yang dirawat kakaknya dan suami kakaknya, bernama Joe. Dunia Pip sangat sederhana, dengan Joe sebagai pandai besi yang menghidupi keluarganya , kakaknya yang sakit, serta Biddy teman masa kecilnya yang sederhana dan mengajarinya membaca. Suatu hari, Miss Havisham yang tidak kalah aneh sama nama Pip mengundang Pip datang ke rumahnya untuk… sebenarnya saya sendiri tidak mengerti untuk apa kecuali mungkin untuk membuat Pip mencintai Estella yang di luar kapasitas Pip sebagai orang biasa-biasa aja.

And it works.

Pip pun nelangsa seperti orang yang ingin sekali memiliki sesuatu tapi tidak bisa berbuat apa –apa, sampai suatu hari ada seorang pengacara bernama Mr. Jagger, mendatangi Pip dan mengatakan ada seseorang yang membiayainya untuk menjadi gentleman. Pip… well, Pip pun meninggalkan pekerjaannya sebagai pandai besi, meninggalkan keluarganya, meninggalkan kehidupannya dan menjadi seorang gentleman untuk mengejar Estella.

Di dalam buku ini, ada banyak sekali kararakter menarik, sekaligus namanya yang juga menarik. Pip, contohnya. Pip ini salah satu tokoh utama yang buat saya kesal setengah mati karena dia sungguh tega meninggalkan Joe, kakaknya, dan Biddy. Joe, Biddy, dan Herbert tentu adalah tokoh favorit saya. Joe yang benar – benar tulus buat saya berkaca-kaca dan mau teriak – teriak ke Pip.

Sementara ada saja orang – orang aneh yang bikin buku ini jadi aneh (halah). Contohnya Miss Havisham yang masih menyimpan baju pengantinnya sampai menguning, tidak pernah keluar rumah, dan hanya memerintah-merintah saja. Selain Miss Havisham, ada juga Mr. Jaggers dan anak buahnya Wemmick yang memperkenalkan pada saya mengenai hukum dan cara menghukum orang pada jaman itu. Dan tentunya si tahanan misterius yang kabur dari penjara saat Pip masih kecil.

Selain karakter, Dickens memiliki deskripsi  yang kuat mengenai tempat. Ada beberapa tempat yang memorable buat saya, yaitu Satis House dan The Castle. Satis House adalah rumah milik Miss Havisham, kalau membaca deskripsi tentang rumahnya yang disampaikan oleh Dickens membuat saya merinding dan ngeri. Bukan karena Miss Havisham yang depresi dan putus asa, tapi deskripsi dari rumah ini seperti hampa dan sepi sekali setiap Dickens menggambarkannya. Kadang saya merasa mau bersin ketika Dickens menggambarkan Satis House dan semua jam yang ada di kamar Miss Havisham dihentikan pada waktu yang sama. Bagaimana bisa rumah yang begitu besar seperti punya banyak sekali kekosongan dan walaupun saya tahu banyak sekali pembantu yang mengurus rumah tersebut, tapi saya tetap ingin bersin seakan ini rumah yang tidak terurus dan berdebu.  Berbeda dengan Satis House, Wemmick memiliki The Castle dimana semuanya indah kayak bunga –bunga di taman (yup, there are flowers and all).

Saya suka dengan ceritanya walaupun agak sulit untuk mencernanya ketika membaca pertama kali. Ada beberapa bagian yang saya suka seperti bagaimana Pip sangat putus asa dalam menginginkan menjadi gentleman tapi tidak bisa, dimana Herbert yang bekerja keras untuk menghidupi diri namun masih membantu Pip, dimana Joe yang biar susah dan sudah ditinggalkan masih tersenyum dan bangga akan Pip, masih banyak lagi bagian yang membuat saya menjadi terharu.

Mungkin hal yang membuat saya suka dengan novel ini adalah harapan besar itu sendiri. Great expectations, high hopes, or whatever you called it, adalah pembunuh terbesar yang disampaikan oleh Dickens dengan baik dan membuat saya  bisa merasakan apa yang tokoh tersebut rasakan. Ada waktu ketika kita punya harapan atau keinginan yang sangat besar tapi tidak bisa mewujudkannya seperti Pip. Ada waktu ketika harapan itu terwujud dan hilang begitu saja seperti yang dialami Miss Havisham. Harapan itu juga perlu pengorbanan besar seperti Joe yang dikorbankan Pip untuk melihat dunia luar.

I know, this book is not only about that, though. Buku ini tentang bagaimana Pip yang melihat suatu kekayaan adalah kunci segalanya , buku ini tentang berterima kasih dan bersyukur, buku ini tentang melihat orang bukan dari statusnya dan macam – macam lagi.

But, I do, I do like this book. 

Bahkan saya membacanya ulang sekarang.

3/5

That was a memorable day to me, for it made great changes in me. But it is the same with any life. Imagine one selected day struck out of it, and think how different its course would have been. Pause you who read this, and think for a moment of the long chain of iron or gold, of thorns or flowers, that would never have bound you, but for the formation of the first link on one memorable day.

Selamat Hari Buku Nasional (telat)

21 Mei

Saya adalah seorang pembaca yang bisa dibilang malas dan tidak produktif. Lihat saja berapa banyak postingan saya di blog untuk tahun ini. Ah, tidak perlu dihitung karena ini adalah postingan pertama saya di tahun 2017.

Kalau bukan karena hari ini saya sedang datang santainya , saya mungkin masih tidak akan menulis dan beberes di blog saya yang penuh dengan laba – laba ini. Bahkan saya sendiri merasa kagok menulis di blog.

Mungkin bisa saya awali dahulu dengan memperkenalkan lagi bahwa saya orang yang bisa dibilang lumayan sedikit (halah) sibuk di kehidupan nyata. Lima bulan terakhir, saya masih berusaha keras di dunia nyata dan sama sekali tidak sempat membaca buku. Tentunya sempat vakum dengan yang namanya blogging dan review. Kalau melihat buku atau melihat postingan blog seseorang tentang buku, saya kadang bertanya – tanya, sebenarnya saya ini adalah “pembaca” atau bukan. Mencoba membaca setelah pulang dari rutinitas yang melelahkan itu sama saja dengan mencoba mengetik post ini menggunakan siku kiri saya. Sulit. Jadi saya ini masih bisa disebut “pembaca”?  Atau mantan “pembaca”?

Well, setelah keluar sementara dari rutinitas yang melelahkan dan penuh dengan luapan adrenalin, saya akhirnya kembali membaca buku dan saya merasakan kembali betapa saya sukanya dengan membaca, betapa kangennya dengan untaian kata – kata yang dituliskan oleh penulis kepada pembacanya, betapa takjubnya dengan dunia luas yang bisa dijangkau hanya dengan lembaran kertas dan tinta. Dari sanalah saya mulai menyimpulkan bahwa, saya tetap pembaca.

Tidak semua pembaca bisa membaca dengan cepat. Saya tipe – tipenya orang yang membaca sangat lambat. Untuk ukuran buku modern saya bisa menghabiskan dalam waktu seminggu. Untuk ukuran buku klasik, sebulan penuh bisa saya habiskan untuk membacanya. Minder ? Tidak sih, tapi sempat jealous berat sama yang bisa melahap habis semua isi buku dalam waktu sekejap. Namun, saya sadar tidak semua orang bisa memiliki kemampuan membaca dengan cepat. Satu yang selalu saya rasakan sebagai orang yang suka membaca…

I think my love of reading is a blessing from God.

Beberapa orang punya suara indah, saya tidak. Beberapa orang punya kemampuan bermain alat musik dengan indahnya, saya tidak. Beberapa orang jago berolahraga, saya tidak. Namun, beberapa orang suka membaca buku, saya juga! Betapa bersemangatnya saya untuk membaca dan memegang buku di tangan saya. Apalagi saat menyelesaikan suatu buku yang bagus banget, memorable, dan susah bikin move on. Dan lagi, seperti menyanyi,mendengarkan musik, dan hal – hal lain kesenangan membaca buku bisa diasah dan dimiliki setiap orang.

Saya mulai menyadari bahwa tidak harus memiliki buku yang covernya bagus – bagus untuk menjadi  pembaca, tidak harus memiliki berbagai macam koleksi buku untuk menjadi pembaca, tidak harus memiliki kemampuan fotografi yang baik dan memenuhi feed sosmed anda dengan buku untuk bisa dikatakan pembaca, dan tentunya tidak harus membaca buku yang lagi happening dan dibaca semua orang.

🙂 cukup nikmati untaian kata – kata itu, masuk ke dalam dunia imajinya, menangisi guratan puisi sedihnya, dan berbahagialah bahwa kita bisa menikmati karya dalam bentuk buku dan cerita.

Selamat Hari Buku Nasional (sebenarnya 4 hari yang lalu tapi yah well…)

Siasat Pulang ke Tanah Air

31 Agu

Judul : Pulang

Penulis : Leila S. Chudori

Penerbit : KPG

Tahun Terbit : 2012

16174176

Bangku SMA adalah waktu saya lagi malas-malasnya belajar. Pelajaran sejarah khususnya, yang saya lakukan ketika itu biasanya diam – diam ngantuk dan ngemut permen serta ketiduran di atas bangku sekolah.  Selain karena energi sudah dihabiskan oleh bergadang main online game (dulu yang terkenal SEAL online, keranjingan main sampai lupa belajar UN), saya memang susah banget menerima pelajaran sejarah. Waktu SMA , mumet banget kayaknya melihat tanggal, tahun, nama yang susah-susah, siapa itu sekutu, siapa itu penjajah, siapa itu ini, itu… Sumpah, sampai sekarang pun mengingat buku paket sejarah saya langsung mual-mual psikis haha.

Bukan karena gurunya, guru sejarah saya dulu interaktif kok. Beliau malah buka diskusi bebas kok tentang perang dunia atau macam-macamnya. Tetep sih, walaupun begitu, pengetahuan siswanya juga terbatas sama buku – buku. Itu juga yang nyambung cuma satu dua orang alias yang membaca buku sejarah hanya beberapa orang saja. Sisanya ? Ya semuanya cuma melamun sendiri menatap papan tulis yang kosong atau menatap nanar lapangan bola basket sekolah yang kosong dan disinari terik sinar matahari.

Itulah asal muasal saya, anak muda yang tidak mengenal sejarah. Jangankan mengenal sejarah dunia, sejarah Indonesia saja saya bingung kok. Baru setelah saya mengenal genre Historical Fiction, saya mulai mengenal sedikit sejarah. Serius deh, dasar memang dangkal kali ya, saya baru tertarik sejarah karena ditambahin drama, bumbu, lada, pala, dan Royco dimana-mana. Beneran deh, sekali membaca Historical Fiction, saya biasanya langsung penasaran banget sama yang namanya unsur Historical yang ada di buku tersebut.

Buku his – fic pertama yang saya baca mungkin adalah emm…  When You Reach Me dan buku Philippa Gregory mengenai istri Tudor yang paling terkenal, The Other Boleyn Girl. Dilihat dari rak virtual saya di Goodreads ataupun melihat review-review saya (ragu sih ada yang memperhatikan haha J), buku yang lebih sering saya baca di tahun –tahun sebelumnya adalah buku luar.Otomatis, buku his – fic yang saya baca juga kebanyakan dari luar. Jadilah si Dyta newbie yang mulai tertarik sejarah malah lebih tau masalah istri – istri Henry Tudor daripada istri Soekarno, malah pernah baca tentang WW dibandingkan perang –perang di Indonesia. Bukan karena sok bule sih, jadi sebenarnya dulu saya paling jarang beli buku dan sebenarnya juga kebanyakan buku pengarang luar yang say abaca saya baca dari versi ebooknya. Ada ketakutan juga kalau membaca buku sastra Indonesia, nampaknya berat sekali dan saya takut tidak suka.

Ketakutan itu mulai hilang setelah saya hobi membaca klasik. Memang nampak berat dilihat dari luar, tapi ternyata mempunyai sisi yang menenangkan tersendiri yang dimiliki buku klasik. Saya pun mulai membaca buku – buku Indonesia. Akhirnya baru kemarin saya memilih buku Pulang sebagai buku historical fiction Indonesia pertama yang saya baca. Dan rasanya… sangat – sangat… menakjubkan.

Pulang adalah karya Leila S. Chudori yang banyak mendapat pujian dimana-mana. Punya buku ini sejak beberapa tahun yang lalu (hadiah dari Seraper :D), baru bisa membaca sekarang. Pulang adalah sebuah cerita yang memiliki beberapa titik sejarah yaitu peristiwa setelah 30 September 1965 dan pada masa reformasi pada tahun 1998. Tentu saja ditambah dengan beberapa bumbu drama berbau cengkih dan lada khas Indonesia membuat saya sesenggukan membacanya.

“Aku tak ingin berakhir seperti mereka, saling mencintai. Lantas kehilangan dan kini mereka hanya mengenang dan merenung dari jauh.”

Pulang memiliki banyak tokoh yang satu sama lain berkaitan baik hubungan keluarga ataupun hubungan sahabat.Beberapa tokoh utama buku ini adalah Dimas Suryo si eksil politik Indonesia di Prancis yang memulai cerita dengan pertemuannya dengan Vivienne mahasiswi Prancis. Sahabat – sahabat Dimas alias para empat pilar tanah air, Risjaf, Nug, Tjay, dan juga Hananto yang tertangkap di Indonesia. Suka sekali dengan persahabatan mereka dan kadang humor di buku datang dari mereka berempat. Persahabatan mereka entah kenapa mengingatkan saya kepada buku Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Kemudian, ada anak dari om – om ini, yaitu Lintang, kemudian ada Alam, Kenanga, Bulan yang merupakan anak dari Hananto dan Surti, ada juga Andini, Bimo, Rama. Ya, rame sekali, tapi konflik keluarga yang dihadirkan dan segala jenis cinta segitiga maupun cinta pada pandangan pertama keluar di dalam buku ini menjadikan bumbu yang menarik untuk menemani latar belakang sejarah yang ditampilkan.

Suka sekali dengan tokoh Dimas Suryo dan dari tokoh inilah sejarah kelam tahun 1965 dipaparkan. Selain memaparkan sejarah, di dalam buku ini penulis juga mencantumkan karya –karya yang bisa ditelusuri untuk memahami komunisme seperti Karl Max dan lain – lain. Buku – buku ini dibaca oleh Dimas Suryo dan kawan-kawannya. Saya benar – benar merasa dangkal kalau mengingat Dimas Suryo dan kawan-kawannya memiliki wawasan yang luas sekali.

Selain Dimas Suryo, Lintang adalah tokoh yang membuat saya malu sekaligus saya sukai. Lintang adalah anak Dimas yang lahir dan besar di Prancis. Dari sudut pandangnya, kita bisa menyusuri Paris dan berbagai makam penulis – penulis ternama seperti Oscar Wilde, dari sudut pandangnya juga kita bisa mempelajari cerita Mahabharata dan lain sebagainya. Lintang adalah anak yang tidak mengetahui sejarah Indonesia. Menurutnya dia tidak mengetahui apa – apa sampai dia pun diutus oleh dosen pembimbingnya untuk mengangkat tema skripsi sejarah Indonesia. Jadilah Lintang si anak rajin yang belajar dari berbagai media mengenai sejarah Indonesia. Guess what, bahkan Lintang yang tinggal di Paris lebih tahu banyak dari saya.

Sepanjang perjalanan membaca “Pulang”, saya benar – benar tertarik dengan sisi sejarah yang ditawarkan. Saya menggunakan kata tertarik karena sebenarnya saya tidak tahu menahu tentang Gerakan 30 September kecuali yang superfisialnya saja yaitu PKI membunuh para jenderal, saya tidak sadar kalau di balik gerakan itu ada pembantaian balas dendam besar-besaran yang sangat mengerikan bisa dibandingkan sama Nazi (baru tahu itu… :’) ), saya tidak tahu kalau banyak orang yang lari ke luar negeri dan menjadi tapol di sana, saya juga baru tahu kalau tahun 1998 waktu umur saya 7 tahun yang saya lihat di televisi kerusuhan di mana – mana itu sangat menyeramkan. Barulah saya mulai menggila. Iya, menggila sampai tidak tidur sampai jam 3 pagi untuk menonton video documenter yang mengajarkan saya tentang sejarah pada saat itu. Saya menonton video youtube mulai dari film G30S/PKI yang darah muncrat sana sini sampai ke video documenter wawancara ke orang – orang yang ditahan karena disangka PKI. Ya ampun, bahkan saya sempat mencari video tentang komunisme, apa itu, dan kenapa dia tidak berhasil. Yah, masih dengan kebingungan yang biasa dengan tahun dan tanggal serta nama tokoh, tapi saya mulai mengerti sedikit tentang peristiwa jaman itu. Walaupun memang tidak seperti orang –orang yang bisa berargumen atau menceritakan dengan detail sampai ke ideologi – ideologi komunisnya, saya bisa menyebut diri saya sangat belajar dari membaca novel ini. Lebih dari yang saya pelajari di bangku SMA. Jadi, saya sendiri membaca buku historical fiction Indonesia karena saya kepengen “pulang” untuk belajar sejarah di negara sendiri.

“Rumah adalah tempat di mana aku merasa bisa pulang.”

Selain sejarahnya, cerita pada buku ini sangat indah dan membuat beberapa kali saya harus menitikkan air mata. Bahasa yang digunakan penulis bagus sekali sehingga pembaca tidak kesulitan untuk membacanya sampai habis. Saya juga menyukai ilustrasi pada buku ini yang terkesan sangat tajam dan penuh arti walaupun saya tidak terlalu mengerti seni.

DSC_1474.JPG

Ilustrasi di Buku Pulang. Keren ya 🙂

Memang terlambat, tapi saya tetap mau menganjurkan bacalah buku ini. Ratingnya ? Sudah pasti 5/5

Far from the Madding Crowd

29 Agu

Judul : Far from the Madding Crowd

Penulis : Thomas Hardy

Penerbit : Wordsworth Classic

Jumlah Halaman : 331

Awal Terbit : 1874

Far from the Madding Crowd

Setelah terpesona oleh Tess, saya diam – diam menaruh hati pada sang penulis,  Thomas Hardy. Menemukan buku yang membuat saya terkaget-kaget saking tragisnya, saya jadi bertanya –tanya, apakah Thomas Hardy memang penulis sadis yang gemar menyiksa tokoh-tokohnya dengan tragedi. Tidak ada cara lain untuk mengetahuinya selain membaca buku – bukunya yang lain. Nah, dari sinilah saya mulai mencari buku Thomas Hardy mana yang selanjutnya membuat saya merelakan sekian banyak waktu untuk membaca sampai selesai. Muncullah Far from Madding the Crowd di deretan film yang baru saja beredar, sehingga saya mulai memesan buku ini dan memutuskan untuk membacanya.

“Love is a possible strength in an actual weakness.”

Far from the Madding Crowd, dari judulnya saja bisa dibayangkan bahwa buku keempat Thomas Hardy ini (kembali) bersettingkan pedesaan yang asri dan masih penuh pohon, jagung, kuda, domba, dan yap tentu saja skandal ala –ala telenovela Esmeralda (halah). I love it, anyway!! Saya mulai membaca buku ini semenjak mudik, sayang sekali karena mudiknya bukan hanya murni mudik tapi mudik yang sibuk dan gak sempat lama, sehingga niat buat menyerapi pedesaan dengan buku ini tidak kesampaian. Yah, mau tidak mau membaca buku ini di perkotaan di tengah –tengah kesibukan dan jaga. Tidak seperti ketika saya membaca Tess, setting pedesaan di wilayah yang setengah fiksional bernama Wessex ini dapat saya nikmati dan saya menganggapnya sebagai suatu komponen yang menenangkan dalam novel ini. Ya, meskipun saya membacanya bukan di pedesaan.  Apalagi, domba –dombanya, ya ampun, jadi ingat main hay – day deh.

Cerita dimulai dengan memperkenalkan seseorang bernama Gabriel Oak, si penggembala yang tiba – tiba saja jatuh hati oleh Batsheba Everdene yang kemungkinan namanya menjadi inspirasi penulis buku Hunger Games (that Katniss girl). Batsheba adalah sosok yang menjadi pusat perhatian dalam buku ini. Menjadi sosok yang cantik dan sifatnya yang agak iseng, Batsheba akhirnya menghadapi kisah hidup yang sulit ketika harus memilih di antara tiga laki – laki yang naksir padanya (Yuhuu, Katniss who?). Tiga lelaki itu adalah tak lain tak bukan Oak sang penggembala jujur yang pasrah banget kena kesialan bertubi-tubi setelah ditolak Batsheba, Mr. Boldwood yang tadinya tidak peduli dengan wanita jadi kesengsem berat gara-gara keisengan Batsheba, dan Sergeant Troy yang dari awal muncul udah gombalele dijual sepanjang paragraf.  Tiga lelaki ini adalah salah satu bagian utama dari perhatian saya karena yah… Batsheba jadi benar-benar jungkir balik jumpalitan karena ketiganya. Hmm, ayolah, dari awal saya memang sudah menaruh hati sama Oak, si penggembala baik yang bener- bener kena friendzone sama si Batsheba ini. Hardy sukses membuat saya ngeri dengan karakter Boldwood yang saya pikir sangat –sangat tidak stabil dan berbahaya. SergeantTroy juga membuat saya ngeri dengan gombalnya yang terlalu abnormal dan betul – betul sangat mencurigakan. (But I still can see some people rooting for him anyway). Oh my God, Miss Everdene, MARRY THE OAK ! Not that one who I hate the most. Seriously…

“When a strong woman recklessly throws away her strength, she is worse than weak woman who has never had any strength to throw away.”

Oh ya, walaupun saya gregetan sama Batsheba karena pilihannya salah melulu, saya suka dengan gayanya yang kuat dan memang berani. Setelah dua buku dari Hardy yang say abaca, saya sudah menemukan dua sosok tokoh wanita kuat yang kuatnya bukan karena sok kuat namun memang terlihat dari betapa dia masih berdiri tegak walaupun banyak masalah yang dia buat sendiri. Mungkin itulah yang membuat saya bisa dengan semangat menyelesaikan novel ini walaupun saya mesti bolak balik kamus dan indeks (Oh ya, setiap kali saya membaca klasik, saya harus begitu 😀 ).

Buku ini memang membuat depresi, namun pembaca seperti digiring dari suasana riang dan cerah ceria pada awal buku kemudian pada akhir buku cerita menjadi makin suram dan makin suram. Sedikit berbeda dari buku Hardy sebelumnya yang saya baca, Tess of the d’Urbervilles, buku ini seperti pulau penuh unicorn dan pelangi serta kembang gula. Saya suka dengan tokoh – tokoh yang dibentuk Hardy, settingnya, dark – nya, dan pastinya endingnya. Love it, love it.

They spoke very little of their mutual feeling; pretty phrases and warm expressions being probably unnecessary between such tried friends.

Far from the Madding Crowd baru saja ada filmnya nih. Next time I’ll blog about it ya ! 🙂

My kind of 5 / 5

Love this Hardy guy!!!

 

Greyfriars Bobby

20 Agu

Judul : Greyfriars Bobby

Pengarang : Eleanor Atkinson

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Terbit : Agustus, 2010

Awal terbit : 1905

8994306

 

Suram, itu merupakan hal pertama yang terpintas kalau melihat buku ini. Gimana nggak suram, gambar anjing kecil dengan sebuah batu nisan adalah cover terpilih untuk novel ini. Seakan kurang menyuramkan, warna abu – abu lah yang dipilih untuk menemani mereka melapisi halaman depan buku. Ada kutipan terkenal yang mengatakan jangan memandang buku dari covernya, karena belum tau tentang isinya. Namun nampaknya, buku ini merupakan pengecualian.

Greyfriars Bobby adalah sebuah cerita tentang Bobby yang tinggal di pekuburan Greyfriars pada jaman dahulu kala. Bobby adalah seekor anjing kecil dengan jenis Sky Terrier. Anjing kecil ini adalah milik seorang penggembala miskin bernama Auld Jock. Seperti apa yang ditampilkan covernya, cerita dari anjing kecil ini menyedihkan dan membuat pilu. Anjing kecil ini ditinggal mati majikannya di sebuah penginapan murahan dekat Greyfriars. Sejak saat itu, anjing kecil yang sangat setia ini, menjadi penghuni tetap di pemakaman Greyfriars. Mau apa dia disana ? Tidak lain dan tidak bukan adalah untuk menjaga makam Auld Jock.

Masalah pun datang dari penjaga makam yang tidak memperbolehkan anjing liar berkeliaran disana, dari cuaca yang begitu dingin (yah, bisa kita lihat di covernya yang kayaknya ada salju-saljunya di antara warna abu – abu putih ), dari kepolisian dan macam-macam membuat kisah Bobby tidak kalah suram dari sampul bukunya.

Kebetulan saya membaca buku ini versi terjemahan Gramedia, waktu itu dikasih mama yang liat di toko buku terus langsung ambil aja secara random huahaha (thank you, ma).  Setelah membaca buku ini dan tanpa mengurangi rasa terima kasih saya kepada mama, saya hanya ingin berterus terang kalau saya tidak begitu menikmati buku ini. Membaca buku ini halaman demi halaman sangat butuh perjuangan ekstra. Terjemahannya sulit sekali dimengerti, entah mungkin karena ini buku klasik jadul yang menggunakan bahasa-bahasa sulit (penuh dengan aksen Scottish) sehingga agak susah diterjemahkan atau memang terjemahannya yang njelimet saya tidak tahu. Alhasil niatnya mau menikmati sebuah kisah ringan yang bisa buat tersedu – sedu, malah kebingungan dan hampir saja DNF.

Sangat disayangkan sebenarnya, karena menurut saya cerita tentang Bobby si anjing kecil ini lumayan membuat haru. Oh ya, kisah anjing kecil yang setia di samping makam pemiliknya ini adalah sebuah kisah nyata yang ditambahi beberapa bumbu fiksi. Setelah membacanya, saya baru sadar kalau ternyata memang ada patung untuk mengenang si anjing Bobby yang didirikan di Edinburgh.

Setelah membaca buku ini,s aya jadi agak ogah – ogahan membaca buku klasik yang diterjemahkan. Well… J saya lebih merekomendasikan untuk membaca versi bahasa aslinya.

2.5/5

Greetings from Erebos

15 Mei

Judul : Erebos

Penulis : Ursula Poznanski

Tahun terbit : 2010

24605892

”Salam, Tanpa Nama.” Hurufnya yang berwarna perak terlihat kontras dengan latar belakang yang hitam. “Kau cukup cepat.”

Covernya yang warna merah terang , membuat saya berpikir ketika mendapatkan buku ini sebagai hadiah ulang tahun. Ini buku tentang siksaan kubur atau apa ya, apakah fantasy berisi Gollem dan Syaiton. Apalagi dengan adanya caption di bawah judul, “Enter the game and prepare to die” dengan berdarah-darah makin membuat saya yakin ini buku penuh dengan laknat –laknat luar biasa dan segala jenis setan – setan yang bisa dimunculkan dalam dunia literatur.

Ursula Poznanski, seperti yang bisa dilihat di cover buku adalah seorang pemenang penghargaan di Jerman. Buku inilah yang membawa namanya dalam memenangkan German Youth Literature Prize dan beberapa penghargaan lainnya. Biasanya buku –buku yang memenangkan penghargaan memang membuat saya penasaran, emangnya ada apa sih dengan buku tersebut. Nah, buku ini lebih membuat saya penasaran lagi karena saya belum pernah dengar sama sekali sebelum saya dikasi bukunya secara nyata hahaha. Lagipula buku dengan cover merah berapi-api dan makhluk-makhluk seperti golem meraih nama Erebos adalah sesuatu yang mengerikan, kok bisa menang penghargaan. (Me being soft…)

“Jadi, Nick!”, bisik Brynne. “Aku mau menghadiahimu sesuatu. Barang ini keren sekali. Sumpah!!”

Oke Brynne terima kasih atas pemberianmu kepada Nick Dunmore sehingga kita bisa meneruskan cerita ini dan memiliki tokoh utama yang biasa saja dan tidak menyebalkan. Jadi Erebos adalah nama sebuah game yang beredar secara diam- diam dalam bentuk CD di sekolah Nick Dunmore. Sudah berminggu – minggu terlihat anak –anak ini pada kasak kusuk mengedarkan sebuah CD yang rumornya adalah album baru Linkin Park yang belum dirilis pasaran. Geez. Setelah beberapa lama Nick, jagoan kita, merasa bertanya – Tanya tentang album Linkin Park ini, akhirnya dia mendapatkannya dari seorang cewek yang naksir berat padanya, Brynne.  Betapa senangnya Nick ketika mengetahui Erebos adalah sebuah game. Game yang sangat nyata, mulai dari grafik sampai NPC (non player character) yang bisa menjawab pemain dengan sangat interaktif.

Tidak lama waktu yang dibutuhkan buku ini untuk mengambil hati saya. Mengetahui buku ini tentang sebuah game yang sangat keren, saya langsung kegirangan. Yaaaay! Another Ready Player One! Eits, jangan salah dulu, buku ini tidak bisa disamakan dengan RPO, walaupun sama – sama YA dan bertemakan sebuah game, tapi buku ini lebih down to earth dan tetap pada dunia nyata dan permasalahan dunia nyata anak remaja juga masih sangat banyak dibahas.

Seperti game MMORPG yang biasa, dasar dari game ini adalah sama. Pemain bisa memilih karakternya sendiri dan penampilan di game sendiri. Hanya saja peraturan di game ini membuatnya benar-benar menarik. Tidak ada yang boleh memberi tahu siapa-siapa mengenai kehidupan di dalam game. Selain itu, entah bagaimana game ini terkesan sangat nyata dan juga memiliki misi – misi rahasia yang harus dijalankan di kehidupan nyata. Wow, salah satu ide yang keren oleh penulis. Hanya saja , ceritanya mulai menjadi menegangkan karena ternyata misi-misi yang dilakukan pemain, termasuk jagoan kita, mulai mencurigakan dan seperti memiliki misteri besar di dalamnya. Bahkan beberapa kali saya sempat berharap Nick menghentikan permainan ini saking terkesan bahayanya.

Saya cukup senang dengan pemilihan tokoh utama Erebos, Nick Dunmore. Saya memang lagi kepengen membaca buku dengan tokoh utama laki-laki remaja yang tidak berpikir cinta-cintaan melulu. Mungkin karena masih hangover dengan SaS. Thank God, Nick Dunmore menjawab segalanya (acak-acak rambut gondrong Nick). Oke, Nick memang pas dengan cerita ini. Anak remaja yang bukan nerd bukan juga sok songong terkenal. Seperti anak remaja pada umumnya,Nick memang punya beberapa masalah di dalam keluarganya. Namun Nick tidak terlalu ambil pusing. Oh ya, yang paling saya suka adalah Nick tidak suka kimia padahal dia pengen masuk kedokteran HAHAHAHAH (I like you, kid).

Nick punya beberapa teman dan punya gebetan yang enggak nyebelin seperti dirinya. Nick naksir berat sama Emily yang suka banget galau – galau bikin puisi di devianART. Anehnya Nick dan Emily memiliki cerita cinta yang tidak memuakkan dan lembek seperti harus mengorbankan satu sama lain lah, ada yang disandra lah, amnesia lah, apa lah. Pokoknya cerita cinta mereka biasa seperti pada umumnya remaja dan ini membuat saya sukaaa dengan ceritanya. Suatu langkah yang baik oleh Poznanski, karena dengan begitu pembaca bisa lebih menjiwai permainan mematikan namun menghanyutkan di dalam cerita. Bukan fokus ke si ini jadian sama si ini tapi si ini musuhan sama si ini.

Cara penulis menceritakan semuanya dengan tempo yang cepat membuat buku ini sangat mudah dibaca dalam jangka waktu yang tidak begitu lama. Yah, walaupun dengan kecepatan baca selambat kura-kura seperti saya memang tidak mungkin sih menyelesaikan buku berjumlah 576 halaman dalam sekali baca, namun buku ini benar-benar membuat penasaran dan pengen dibaca terus. Membaca buku ini membuat saya ingat masa –masa kejayaan game online yang buat saya (dan teman-teman) lupa diri dan rela begadang enggak tidur demi mendapatkan item berharga. Sepertinya penulisnya juga suka game online nih, dilihat dari penuturan canggihnya mendeskripsikan pemandangan di game tanpa kaku sama sekali.

Buku ini mengandung pelajaran yang berharga juga, bagaimana hal sesimpel dan selugu game bisa membuat hidup seseorang terjungkir balik dan bisa menggerakkan masa untuk mencapai tujuan tertentu. Setelah saya pikir-pikir, buku ini mengingatkan saya dengan novel pendek The Wave oleh Todd Strasser atau… nama penanya Morton Rhue. Hanya saja dalam buku ini The Wave terjadi dalam sebuah game. Kind of creepy when I think of it.

Saya membaca versi terjemahan Mizan Fantasi (or should I say, Noura Books ?) yang diterjemahkan oleh Puti Kellerman. Wah, senang sekali dengan terjemahannya, yah walaupun pada awalnya saya agak canggung dan ada satu dua yang bingung, tapi akhirnya saya bisa membaca buku ini dengan cepat seperti bukan buku terjemahan. Good Job 🙂

5/5

Geez jadi kangen si Lidocain.

I Took a Sip from Jane

5 Mei

Judul : Sense and Sensibility

Penulis : Jean Austen

Tahun Terbit : 1811

14935

Ajaib memang penulis yang satu ini untuk saya. Bisa dibilang saya suka banget juga tidak, saya males banget baca bukunya juga tidak. Gimana yah… dibilang bukunya luar biasa tidak, dibilang biasa juga tidak. Hadeh, itulah Jane Austen menurut saya. Anehnya, semua buku Jane Austen membuat saya betul-betul seperti terkena mantra pelet.  Kali ini buku yang saya baca adalah Sense and Sensibility.

Saya ingat betul, buku Sense and Sensibility adalah buku yang saya coba berulang – ulang kali dan hasilnya tetap DNF. Namun entah kenapa setiap tahunnya, saya tetap mencoba berulang – ulang. Well, memang sih ujung-ujungnya tetap DNF dengan berbagai alasan. Sibuk inilah, sibuk itulah, eh ada buku baru lah, ngejar challenge ini lah. Yang jelas, buku ini adalah salah satu buku ter DNF terlama yang pernah saya punya. Harusnya dari sini, saya bisa curiga dengan Jane Austen. Jarang ada buku DNF yang bikin saya susah move on.

Yah seperti biasa, Jane Austen memulai ceritanya dengan memperkenalkan kita kepada tokoh protagonis dan latar keluarganya. Kali ini tokoh utama dari buku ini ada dua, yaitu dua kakak adik bersaudara, Elinor dan Marianne Dashwood. Walaupun bersaudara, mereka memiliki sifat yang sangat berbeda satu sama lain, Elinor memiliki sifat yang anteng dan berpikir dulu sebelum bertindak sedangkan Marianne memiliki sifat yang lebih mementingkan hati daripada otak. Sebenarnya ceritanya simpel. Keduanya jatuh cinta pada orang yang berbeda. Elinor jatuh cinta kepada Edward Ferrars yang notabenenya adalah kakak iparnya. Marianne, si cantik dari keluarga Dashwood, jatuh cinta kepada Willoughby dengan cerita pertemuan yang ala – ala FTV.

Saya pikir keduanya benar-benar saya. Elinor yang selalu berpikir dahulu adalah saya. Marianne yang suka baper juga saya. Yap, saya orangnya yang kebanyakan berpikir dan ujung-ujungnya mengikuti kata hati juga. Jadi, saya tidak bisa menyalahkan diri kalau saya tidak bisa move on.  Seharusnya saya juga mulai curiga dengan Jane Austen, kenapa dia selalu membuat karakter yang seakan-akan mirip dengan saya. Haha, tapi di luar itu, saya benar – benar mengidolakan Elinor. Entah kenapa saya lebih menyukai tokoh Austen yang satu ini dibandingkan dengan tokohnya yang super –super terkenal dari Pride and Prejudice, Elizabeth Bennet. Mungkin karena perawakan Elinor yang tenang dan mencoba untuk melihat ke sisi positif saat sedih membuat saya suka dengan dia. Dan ingin menjadi dia. Hahah.

Sama dengan karakter perempuan, saya lebih menyukai karakter di buku ini. Walaupun hampir semua orang bilang kalau si Edward Ferrars itu tokoh laki-laki paling boring sepanjang masa dengan gayanya yang pendiam dan awkward, saya malah suka dengan dia. Entah kenapa tokoh ini lebih bersahabat dibandingkan dengan tipe-tipe cowok buku roman kebanyakan yang setelah saya pikir-pikir lagi, banyak banget yang songong- songong tapi ujung-ujungnya charming. Agak sedikit bosan dengan tokoh seperti itu. Kali ini saya suka dengan pemilihan karakter Jane Austen.

Awal buku ini membuat saya bersemangat. Namun ada beberapa bagian (banyak bagian) yang sangat – sangat lambat dan mengulur-ulur waktu sehingga kadang membuat saya kebosanan sendiri. Contohnya bagian dimana Marianne lagi galau ditinggal Willoughby dan Elinor yang juga diam-diam patah hati sehingga mereka berdua galau dan membuat saya frustasi sendiri. Bagian dimana mereka bertemu dengan banyak tamu-tamu baru membuat saya jadi kurang fokus dan sempat bingung karena curi-curi membaca di tengah aktivitas. Begitu banyak tokoh baru yang diperkenalkan, ini siapanya ini, itu siapanya itu membuat saya menjadi makin bingung. Entah berapa kali saya tidak berhasil untuk melalui bagian ini dan harus mengulang lagi dari awal. Normalnya, setelah percobaan ketiga, saya sudah menyerah. Untuk kali ini, saya terus mencoba dengan berbekal aqua dan tekad kuat. Untungnya bagian membosankan itu hanya di tengah –tengah, bagian selanjutnya mulus dan lumayan membuat saya penasaran. Akhirnya yeeeeey, saya bisa menyelesaikan membaca buku ini dengan sangat sangat puas.

Tidak bisa dipungkiri, saya memang suka dengan gaya jadul yang hiburannya dansa, jalan – jalan kaki menelusuri sekeliling pemukiman, makan – makan sambil gosip, surat – suratan dan lain sebagainya. Mungkin inilah yang bisa saya jadikan alasan kenapa saya bertahan menyelesaikan Sense and Sensibility. Bisa juga karena yang telah saya sebutkan di atas, saya suka dengan karakter ciptaan Jane Austen yang menarik dan mengingatkan saya kepada sebagian orang. Saya pikir, Jane Austen membuat buku ini menarik karena kepribadian dua kakak beradik yang sangat berbeda ini. Austen bisa membuat saya berpikir ingin menjadi Elinor sementara saya ketawa cekikikan dan kesal sendiri menyadari bahwa saya juga mirip Marianne. Hahaha.

“The more I know of the world, the more I am convinced that I shall never see a man whom I can really love. I require so much!”  – Marianne, Sense and Sensibility by Jane Austen 

Lagi – lagi buku ini tidak jauh – jauh dari isu uang dan kekayaan. Saya sedikit menangkap bahwa di dalam buku ini beberapa kali terdapat adegan wanita yang mengontrol laki – laki. Seperti John Dashwood yang dikontrol Fanny, istrinya, untuk tidak memberikan uang ke adik-adik tirinya. Seperti Edward Ferrars yang mengikuti kemauan ibu dan kakaknya untuk masa depannya. Dan lagi – lagi, di dalam buku ini banyak sekali tokoh yang sebenarnya baik namun tidak bisa berhenti bicara dan bergosip. So Jane Austen. J

Saya membaca buku ini bukan untuk romantisnya, bahkan saya rasa buku ini tidak romantis tapi menyenangkan untuk dibaca. Saya suka karakternya. Saya suka dengan gaya penulisannya. Saya suka dengan kebritish-britishannya. Saya suka dengan Jane Austen. Saya tidak keberatan untuk terkena mantra Jane Austen seumur hidup.   LOL.

4/5

#Hut5BBI : Top Five BBI Member

12 Apr

Happy birthday BBI sayang. Sudah lama juga ternyata saya bukan anggota baru BBI lagi hahaha. Selamat ulang tahun, komunitas blogger pembaca sedunia! Semoga semakin rame, semakin soliiiid, semakin terkenal dan jadi motivasi buat meningkatkan minat baca. Amiiin.

hut5bbi

 

Maafkan sekali lagi maaf, sampai sekarang saya masih belum bisa sering – sering ngeblog asik. 😥 padahal udah gak koas lagi, tapi masih sibuk menyiapkan hal – hal selanjutnya. Gara-gara di mention sama mbak Sulis @peri_hutan , saya baru sadar hari ini udah mulai perayaan ulang tahun BBI. Huhu, durhaka ya saya… Semoga belum dianggap telat deh posting jam segini.

My Top Five BBI Member… according to my midnight’s point of view…

  1. Buku – Buku Fanda

Sebelum saya bergabung jadi member BBI, bloger satu inilah yang sering saya pantengin secara anonim hahaha. Sebenarnya yang saya pantengin bukan blog ini sih, blognya mbak Fanda yang satunya, Fanda Classiclit. Saya benar-benar kagum dengan cara mbak Fanda mereview dengan bahasa Inggris, penuturannya benar-benar fasih dan elegan, sesuai dengan buku-buku yang mbak Fanda baca. Sepertinya karena mbak Fanda juga saya mulai tertarik dengan yang namanya buku klasik dan jatuh cinta. ❤ I’m a fan, mbaaak. Dirimu keren banget.

2.  Surga Buku nya Mbak Mel

Oke, nama blognya surgabukuku. Saya suka sama blog iniii, salah satu blog dengan honest review menurutku. Mbak Mel juga banyak memposting tentang buku klasik, jadi suka baca reviewnya, karena seleranya hampir mirip dengan saya haha. Oh ya, yang saya suka dengan blog mbak Mel itu… koleksi-koleksi bukunya yang terkadang dipamerkan bikin ngiler. Apalagi coloring booksnya cantik – cantik. Selain itu mbak Mel ini aktif juga di IG, saya juga suka stalking IGnya, btw. Hahaha, gila itu koleksi Jane Eyrenya. :O

3. Bacaan Bzee

Ketemu sama mbak Bzee lewat acara interview memperingati ultah BBI beberapa tahun lalu. Kaget banget ternyata mbak Bzee itu dokter. Yang bikin saya memilih blog ini sebagai salah satu favorit adalah karena aku takjub banget ngeliat mbak yang satu ini masih konsisten dan getol dalam mereview plus mengadakan event rutin di tengah-tengah kesibukan jadi dokter. Saya paling suka baca “scene on three”, event yang di host sama mbak Bzee di dalam buku ini dan hanya saya ikutin beberapa kali :p

4. Books to Share oleh Astrid Lim

Mbak Astrid, salah satu bloger terkeren dengan koleksi buku impornya yang maknyus banyak banget bikin ngiler. Buku yang di review di blog ini adalah buku-buku yang lagi ngehits di dunia dan membuat saya jadi mupeng pingin beli juga. Eventnya yang Wishful Wednesday, keren banget masih dijalankan sampai sekarang dan bikin tambah mupeng. Pokoknya blog ini adalah blog yang paling bikin saya melek dan mupeng berat.

5. Ira Book Lover

Bloger satu ini… masuk ke dalam top five saya. Mungkin dari sekian banyak blog yang saya follow, blog Ira ini salah satu yang aktif sekali. Salut banget sama eventnya yang Baca Buku Perpus masih berjalan lancar jaya sampai sekarang. Tetap jadi blogger yang semangat yaaa *hug* Pingin banget sering ngereview kayak Ira.

Oh ya, itulah lima blog favorit saya. Tidak ada urutan pasti, hanya saja memang itulah lima blog yang paling sering saya kunjungi. Seandainya bisa menyebut semuanya pasti sudah saya sebutkan. Seandainya saya sedang tidak teler dan melihat keyboard laptop udah kayak bantal, saya akan mengoceh panjang lebar lagi tentang blog-blog lain.

 

The Middlesteins

20 Mar

Judul : The Middlesteins

Penulis : Jami Attenberg

Terbit : 2012

13525938

Masih ingat banget kata-kata guru saya, bahwa masalah sekarang sudah berkembang. Dulu, gizi buruk adalah masalah besar bagi banyak negara (dan masih sampai sekarang). Sekarang, gizi yang terlalu baik, alias berlebih menjadi masalah terbesar bagi sebagian negara. Kebetulan, menjadi masalah besar bagi keluarga Middlestein.

Korban utama dari masalah ini adalah Edie Middlestein. Ibu dari dua orang anak ini, memiliki berat badan yang sangat berlebih. Bukan hanya itu, dia juga memiliki penyakit-penyakit bonus seperti penyakit jantung dan juga diabetes mellitus. Keluarga Middlestein pusing tujuh keliling dengan kondisi kesehatan Edie. Kedua anaknya, Robin dan… emm… lupa siapa namanya, oh ya, Benny, serta istri Benny yaitu Rachelle memikirkan untuk memaksa Edie agar berdiet. Bagaimana tidak ngeri, Edie yang kedua kakinya sudah dipasang stent untuk memperlancar pembuluh darah akibat gangguan vaskularnya ini tetap tidak mau diet! Sementara kedua anaknya sedang memutar otak untuk mengubah kebiasaan Edie, Richard sang suami malah berlari tunggang langgang dan memilihkan untuk menceraikan Edie sedang sakit-sakitnya. Oh well…

Konflik keluarga inilah yang dibahas sedemikian rupa di dalam buku ini. Penulisnya menuliskan dengan style yang sepertinya lagi tren di genre kontemporer, yaitu dengan point of view yang bergantian di tiap babnya. Mungkin maksudnya untuk membiarkan kita mendalami masing-masing tokoh. Iya, jadi dalam buku ini kita bisa mendalami dari Edie jaman dulu (yang memang sudah gemuk) sampai jaman sekarang (yang jadi obes). Kita bisa juga mendalami bahwa Robin si grumpy dan not so likeable, menemukan cinta pada teman dekatnya sendiri. Tidak lupa si Rachelle yang bener-bener kaku dan obsesif. Plus, si kambing hitam, Richard Middlestein yang memulai masa-masa lajang di umurnya yang sudah tidak muda.

Sayang sekali, di dalam buku ini, hanya beberapa tokoh yang bisa menimbulkan simpati saya. Kebanyakan tokohnya menjengkelkan dan susah untuk disukai. Ya, seperti Robin dan Edie yang membuat saya gregetan. Robin dengan gayanya yang emo, grumpy, susah dimengerti dan bahkan ketika membaca bab tentang dirinya saja saya bingung bagaimana untuk mencintai karakter ini sebelum dia bisa mencintai orang lain. Belum lagi si Edie yang entah maunya apa, ditolong juga gak mau, dan malah bebal banget. Karakter – karakter di buku ini memang digambarkan sangat tidak flawless dengan berbagai kesalahan dan kekurangan di sana sini untuk menunjukkan betapa manusia itu kompleks (I guess…). Dan untuk menunjukkan hal ini, karakter yang diperlihatkan menjadi men-jeng-kel-kan. Super duper menjengkelkan.

Secara keseluruhan, semua tokoh di dalam buku ini, egois. Walaupun tidak semuanya saya benci, saya sedikit menyukai tokoh Richard apalagi interaksinya dengan cucu-cucunya. Richard mengingatkan saya kepada kakek yang ada di Modern Family, tapi dengan versi agak membosankan. Tapi setidaknya, Richard adalah salah satu tokoh yang ketika saya membaca babnya, membuat saya sedikit excited.Yang lainnya, hmm.

Saya akui penulis memang pintar dalam menceritakan ceritanya. Beberapa kali penulis menyelipkan sedikit cuplikan untuk masa depan tokoh setelah cerita selesai di narasi-narasi yang menceritakan masa kini. Misalnya saja, di dalam cerita tentang Emily, penulis menyelipkan bahwa bagaimana Emily yang tadinya ngefans berat dengan Robin akan menjadi jauh dan tidak berkomunikasi selama bertahun-tahun.  Bahkan saking bosannya dengan konflik dan karakter yang ada di masa sekarang, saya malah menemukan a glimpse of this future menarik.

Sebenarnya buku ini memiliki penulisan yang sangat mudah dibaca dan ringan. Tidak seperti buku “pintar” macam A Visit from the Goon Squad yang agak –agak membingungkan, buku ini mudah diikuti. Belum lagi jumlah halamannya yang tidak tebal. Satu lagi yang menurut saya sangat disayangkan dalam buku ini adalah makanan. Yaaaap, Jamie Attenberg berpuluh-puluh kali memiliki kesempatan untuk mendeskripsikan makanan yang bertebaran di dalam buku ini, (Well, yah mengingat tokoh utama hobi sekali makan segala jenis makanan) seharusnya deskripsi makanannya indah dan menggugah selera. Noooope, sayang sekali, deskripsi makanannya sangat sulit untuk dibayangkan. Bahkan beberapa kali saya mual dan malah enek gara-gara deskripsi makanannya. Saya bahkan tidak mau mencoba membaca buku ini sambil makan. Atau sambil liat makanan.  Probably, the book is my best way of diet.

Yah segitu dulu deh ngomel-ngomelnya tentang buku ini. Walaupun saya tidak suka, tapi saya bisa menyelesaikan buku ini dalam dua hari (mungkin karena tipis). Saya rasa, dua bintang cukup untuk buku ini. Sepertinya saya sedang enek dengan fiksi kontemporer, mungkin waktunya saya membaca klasik.

Talking about book and food, what is your favorite fiction about food ? Any classic book ?

2 of 5 chicken wings.